Siapapun yang pernah mengeksplorasi kehidupan ber-Jakarta-ria pasti akan setuju: kota ini kota mal. Pusat perbelanjaan ber-AC semacam itu menjamur di seluruh penjuru kota, dan terutama bagi anak-anak muda, rasanya sulit sekali ber-gowl tanpa nge-mol. Di Jakarta yang berisik dan berdebu ini, memilih untuk menyegarkan pikiran di gedung sejuk nan nyaman daripada berpanas-panas diluar rasanya wajar.
Di belahan dunia lain, mungkin definisi umum refreshing adalah jalan-jalan sore di pinggir pantai atau di taman kota, di Jakarta masa kini, definisi umum refreshing bagi sebagian besar masyarakat gaul bisa jadi jalan-jalan melihat display toko.
Dan era informasi dan globalisasi seperti sekarang ini, dimana dunia bisa dibilang makin mirip, clothing labels dari Inggris bisa nyasar kesini, barang-barang elektronik dari Jepang bisa terdampar disini, dan dandanan para bintang Hollywood bisa dengan mudahnya dilihat dan ditiru, memang tidak dapat dihindari: gaya orang-orang, terutama generasi muda di seluruh dunia makin mirip.
Sabtu sore, seperti kebiasaan jutaan warga Jakarta lainnya, saya nge-mol. Kali itu giliran Grand Indonesia untuk dikunjungi, dan singkat cerita sampailah saya ke Level One, sebuah "lorong" yang gaungnya saya dengar dari "sesama anak gaul" yang senang berkicau di situs-situs jejaring sosial.
So what's so special about this place? Secara visual memang menarik, deretan toko di sebuah mal dengan konsep dipikirkan dan dieksekusi secara matang. But when I looked closer, I noticed something more. Terlihat sekali bahwa butik-butik dan toko-toko itu dikelola oleh orang-orang muda nan kreatif, tetapi bukan hanya itu, mereka adalah anak bangsa yang CINTA INDONESIA.
Finally, a spot in Jakarta, where modernity, youthfulness, creativity, and convenience merge together into something Indonesian.
Mulailah saya menyelami bilik-bilik di lorong itu satu-persatu, wow, yang ada di kepala saya adalah semboyan negara tercinta, Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity, setiap toko punya identitas visual tersendiri, tinggal pilih mana yang sesuai dengan kepribadian masing-masing, tetapi setiap toko menunjukkan identitas mendasar yang menjadi benang merah toko-toko di Level One: dari anak bangsa untuk anak bangsa.
Sudah lama saya mencari daerah pertokoan seperti ini di Indonesia, where we can walk door to door and be fascinated by different stuff each time we step in. Salah satu yang saya temukan adalah sebuah lorong bernama Haji Lane, di Singapura. Setiap toko mempunya ciri khas yang menarik, tetapi ada satu yang kurang, selain gaya arsitektur toko-tokonya yang khas, saya tidak terlalu melihat "Singapura" di produk-produk yang ditawarkan disana. Tidak disangka saya menemukan deretan toko yang mewakili individu dan mewakili Indonesia di Level One.
Di dunia yang makin lama makin mirip ini, kita memang butuh sesuatu yang dapat menunjukkan keindonesiaan kita tetapi tetap memungkinkan kita untuk bergaul secara praktis dan global, dan Level One secara cerdas dapat mewujudkan itu. Misalnya, kita tidak harus mengenakan Kebaya sewaktu bepergian keluar negeri untuk menunjukkan pada dunia siapa kita, we can put on a T-shirt with a Wayang on it, or carry around a bag made from Batik. Smart, right?
This place really can represent us, generasi muda Indonesia masa kini, yang bergaya universal tapi ingin menunjukkan identitas kita sebagai orang Indonesia. Dan mengingat bahwa when it comes to stuff made in Indonesia, some people would have doubts about quality, dan sedihnya warga Indonesia sendiri lebih percaya dan lebih bangga memakai barang made in negara-negara diatas sana, dengan bangga saya proklamasikan bahwa produk-produk yang ditawarkan di Level One BIKIN BANGGA. Style-levelnya dapat bersaing dengan produk-produk dari negara-negara yang biasanya menjadi kiblat style dunia.
So if you are young, if you are modern, if you are creative, if you appreciate and celebrate creativity, if you are Indonesians, if you want to hang out with awesome Indonesians, or most importantly if you LOVE INDONESIA, Level One is the right place to be :)