Bayangin nonton The Fellowship of the Ring lagi, tapi kali ini nontonnya di concert hall guede banget, terus musiknya live. Konsepnya gak luar biasa sih, tapi kemakan juga kita. Jiah.
Kemakan banget bahkan. Bukan cuma kita tapi ribuan orang lain dengan muka-muka semangat yang dateng malam itu (tiketnya dengan mengerikan udah hampir ludes dalam hitungan hari).
Entah karena kita emang bukan anaknya Erwin Gutawa atau gimana, pas filmnya mulai (apalagi pas ARAGORN SECARA HEROIK MENAMPAKKAN BREWOKNYA), lupa tuh ada orkestra dibawah situ. Yang bikin
ngeh cuma pas
Kaitlyn Lusk mulai nyanyi : WOW, lebih mistis daripada Enya!
Anyway, pengalaman kemaren tuh nostalgic banget, selain jadi inget masa-masa kepincut berat sama Aragorn (karena mirip Once Dewa), jadi inget juga masa-masa 'itu', those days when I wished I were
older (whaaat). Ceritanya gw, kelas 1 SMP, harus menerima sebuah kenyataan pahit: sama nyokap GAK BOLEH nonton! Padahal gw udah pengen banget nonton film itu sejak beberapa bulan sebelomnya, soalnya di trailernya gw liat: Rivendell. Dan bagaimanapun caranya harus nonton (nah you can see I've had that
nrimo issue since over a decade ago). Jadi gw kabur deh ke TA pulang sekolah bareng temen, nontonin Rivendell.
"Sampe sekarang imajinasi gw tentang keindahan tuh cuman mentok di Rivendell deh," I told the roommate yesterday. "Maksudnya gw gak bisa bayangin yang lebih indah dari itu,"
Terus dia mikir sejenak, browsing through the movie database in her mind. "Koq kayaknya gak ada yah,"
Rivendell makes me wonder how heaven actually looks like. It is beyond imagination I know. Jadi kalo manusia bisa "nyiptain" tempat sebagus itu, gimana bagusnya Surga yah. Can't wait :)
Besoknya, lupa deh lagi ngapain, tiba-tiba the roommate (setengah) teriak. "Gw tau Dev!"
"Apa?"
"Yang lebih bagus dari Rivendell!"
*excited* "Apaaa?"
"HEART!"
...
...
...
(Kalo loe belom pingsan, mungkin perlu diinformasikan bahwa "HEART" itu merujuk kepada setting filmnya Acha dan Irwansyah dulu itu lho.)