Day 2 : Kuala Lumpur
We're going to a big city yeahh!
In the morning when I was taking a shower I heard something familiar : ...the Paddle Pop song ...("Paaadle Pop Wow Paddle Pop Yaay Super-Duper Yummy!" or "Beli Dong 2x Aku Cape Dorong").
Gw pikir oh, di Malaysia ada tukang jualan Walls juga ternyata.. *senyum2 kangen*
But the sound went louder and louder - I thought eh? Is the seller getting closer? Until I realized it was apparently the sound of Regina's alarm. Ahahah.
Then while waiting for Yosua to come, Nini continued sleeping (with style : the mermaid), Regina and I watched Anastasia woo - hoooo one of the best animations ever - full of pretty songs and a sweet Dimitri. Ah the scene when he gives a sad distant kiss and says goodbye.
Yosua finally came with a taxi dan kita segera meluncurrr dengan senangnya. I had never been to KL before and I was so curious how it's like (kabarnya kerenan Jakarta sih hehe) and I was in desperate need to be in a big city so I was sooo excited when we began to see tall buildings from the highway - and oh those were the Twin Towers!
Actually, I only wanted to see 2 things in KL : the Petronas and malls.
We had been told how different the taxis are in Malaysia from Singapore and I had an impression they're even worst than the ones in Jakarta (at least we still have BurungBiru), but thank God this driver was kind, he even suggested us to get off in a point and walk instead so we wouldn't have to 'pay for traffic jam' - so we did, we got off the taxi in the middle of the road beside a police car. Yeaa it wasn't Singapore.
Yaaay. Always wanted to see these two. Thanks Daddy :D
We walked through KL's Central Park to Suria KLCC
Seriously puanaaas banget. Untung hijau.
Seriously lapeer banget. Untung nyampe.

About this mall, ah - it felt a lot like Jakarta, lumayan lah hehe (fotonya mirip Pacific Place yah). Nah in this trip we went crazy when it came to food - 4 days 3 nights - not even once we had a meal in a food court/ hawker - this rare phenomenon is widely known as "Mumpung Ringgit". Tadinya mo nyari Ayam Penyet (ga tau kenapa berasa pengen makanan Indo), tp secara si Ria lagi ga ada, so Regina suggested makan di Chili's. Can lah can, kan ceritanya turis hahahah.
View from the restaurant's window : berasa luar negeri ga sih fotonya? Hijau
This is so Plaza Senayan with the colours and the palms :D

Ada dancing fountains juga kurang happening sih - quite elegant tapi.

Abis makan rencananya muter2 di mal - nyangkut di science center KLCC, pintu masuknya mirip KidZania, the tix price is oh so cheap compared to Singapore, only RM 15 (adult price) to enter Muzika (science of music) and Petrosains.
Regina and Nini - listening to the singing globe

And the science center itself, it seems more 'complete' than the one in Singapore but it is very Petronas-centered. Yea Petro-science gitu loh, I guess they're trying to grow its people's love & interest for petrols since young ages.
Masuknya keren banget pake kereta berjalan gitu, trus di sekelilingnya ada cerita tentang universe, science, ...., ...., and .. Petronas.
Nah.



Jangan mo kalah Pertaminaaaaaaa!!!
Eh, and my fav : earthquake simulator! So there's a bench we can sit on - and buttons to press to determine the strength of the quake.
English and Malay :D Entertaining!
And of course they a big space to talk about their racing team.
*merasa... "semakin ketinggalan"* (pake nada iklan motor Jepang)

After spending around 3-4 hours in Petrosains we moved on to - souvenir store - and to - eat again. Kabarnya Secret Recipe di Malaysia harganya 'sama' kayak di SG, tapi pake Ringgit. Aiiihhh benarkahh hahahah lumayan banget, RM 6,5/slice. Beneran deh in this trip - makan aja terus. Regina sama Nini belanja di Vincci, merek sepatu pujaan wanita Malaysia (dan tetangga2nya). Sebenernya ada beberapa yang gw naksir and kalo dipikir2 pake SGD (ahahaha otak kembali digunakan) murah, cuma duh dunno what's happening tapi tokonya ruaaame banget - akhirnya gw cuman muter2 bolak-balik dalem toko ikut meramaikan suasana.
People enjoying the fountain, kalo lagi patah hati duduk disitu pasti sakit.
Closer look on the two towers.
Landmarks, especially the huge ones, have a power tho create goosebumps - it depends on the beholders, tho. Being able to see with our very eyes, something we usually only see from pictures, or screens, or even dreams, is always amazing.
But if we're talking about human beings,
our hearts may skip a beat or two.
Okay, move on.
We then decided to proceed to another mall called Pavilion in Bukit Bintang (err it's a district?). Walking to that point in KL, rasanya kayak di Kuningan pas hujan. Ga tau kenapa. I think we were lost minutes but thank God we found it yay -
Duh koq jadi males nulis basa inggeris yah - apa karena lagi ngomongin emol? Karena topik itu sangat keIndonesiaan sekali lho. Ganti setting ah (contoh penulis yang semena-mena, mohon dimaafkan).
Lagi jalan nemu bendera Malaysia, rasanya aneh berada disini.
Sebelum nyebrang ke Pavilion ada jembatan yang naiknya pake eskalator hihi, ga tau kenapa gw fascinated banget sama eskalator tengah kota kayak gini, kayak yang mo masuk Far East tapi lebih panjang dan lebar jembatannya. Kayak di Tokyo (sok tau banget dari kemaren).
Nih mall suasananya beda banget dari KLCC tadi, serene and lux - mirip Central Park Jakarta kalo lagi sepi - sangat menyenangkan hehehe - Vinccinya juga sepi (ahahah) tapi yah lagi ga mood belanja - padahal kalo dihitung2 murah hiks . Disini bentar doang sih soalnya kita mo ke Bukit Bintang yang menurut Nini, "tempatnya baguus banget banyak lampunya, trus banyak restoran."
Juicy Couture 2 lante, si Koni bisa kresi.
Nah, tempat yang gw & Regina pikir sebuah perbukitan yang berbintang di malam hari dan berhiaskan lampu hias dan bertebaran restoran-restoran romantis outdoor ternyata merupakan basement dari sebuah emol, yang namanya Bukit Bintang alias StarHill (Gallery).
Kalo dipikir2 bener sih ciri2nya, banyak lampu - banyak restoran, cuma yang ini indoor dan ga berbukit sama sekali. Nini kenapa ga pake basa Inggeris sih?? Ahahah.
Naah, menurut Nini dan Yosua, disini ada sebuah toilet yang sangaaaaat indah - di dalemnya bahkan ada pelayan yang siap ngambilin air dan even handuk tangan. Penasaran wuaah pastinya mewah sekali yah, kebetulan lagi pada mo ke toilet kita langsung kesana, pas masuk lohh koq temboknya pake batu bata?
Ohh ternyata konsep toilet indah itu visualisasikan secara berbeda (l.a.g.i) di otak kami, ahahah. Tapi lucu banget, emang sengaja dibikin kuno gitu, batu bata, redup, dan wastafelnya itu loh :
Harus diputer manually heheh
Dan pelayan2 ramah siaga membantu pengunjung yang (mestinya) bingung ini wastafel dimana kerannya? Pas gw dengerin koq mereka terdengar agak Jawa yah? Ternyata benar hahaha, mereka wong Jowo yang udah lama menetap di Malaysia (dan udah kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia secara normal), dan menurut mereka - Ari Wibowo kemaren mampir.
Dan setelah gw pikir2, loh itu kan toilet cewek? Heheheheh.
Mampir ke Malaysia untuk syuting maksudnya kali. Ah kamu.

Tembok di dalam bilik heheheh. Ini batu bata apa kayu yah? Sori lupa, akibat procrastinating.
Abis ke WC kita muter2 di bukit berbintang tersebut, ini kayak indoor Clarke Quay tapi lebih 'kedaerahan' - gimana yah, maksudnya kalo restoran Maroko Maroko banget dekornya , kalo Chinese Chinese banget gitu. Semua pokoknya ornamentsnya to the max deh, jadi 'loud', vibrant, berwarna, dan banyak lampu.
Ya ampun ada cave paintings! Jadi inget masa2 lecture theater hahahah.
Lagi ngomongin kita mo makan dimana yah, si Regina tiba2 ngomong, "gw maunya makan di Bukit Bintang, kan kita mo ke Bukit Bintang,"
Yah. Ternyata dia belum sadar.
Btw gw suka banget sama 1 restoran ga tau apa namanya, pokoknya rada tengah2 depan central lounge gitu, berdinding kaca, di 1 sisi temboknya banyak photo2 VIPs yang pernah makan disono, dan orang2 yang makan disono berpakaian formal, terus di salah 1 sudut ada cowok yang mirip Chico Jericho lagi makan. Nah loh gimana nge-googlenya tuh restoran.
Si Regina 'disenyumi' oleh seorang drummer (apa gitaris yah ahh lupaaa) yang sedang beraksi di lounge. Nah pertanyaannya, bagaimana mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat aktif?
"Menyenyumi?"
Ahahah udah ah laper. Akhirnya kita memutuskan untuk makan KFC di daerah Sungei Wang (gara2 banyak money changers bukan sih?), mo nyoba fried-chicken-rice yang kemaren.
Nah disini juga berasa di luar negeri heheh.
Nyampe di KFC yang apparently 24 hours (wow sepertinya Kentaki sangat populer melebihi MekDi kayak di Indo), ngantrinya lama (gw merasa KFC di 3 negara semuanya ngantrinya lama, apa karena mereka tidak punya kebijakan jam pasir / >5 menit gratis es krim?). Ternyata tuh ayam goreng dengan nasi hainam adalah salah satu menu dari paket 'Jom Jimat'.
"Itu artinya 'yuk, hemat'" Nini menjelaskan.
Ini dia 'Paket Jom Jimat' hahahaha. Cuma 6 Ringgit termasuk minumm!
And they provide steel utensils! I never saw any junkfood restaurants with those. Dan beneran enak, bersyukurnya itu bukan seasonal menu hehe. (Future minded dong).
Di meja makan, dari utuh sampe ludes, bahkan sampe ke tempat cuci tangan, penuh dengan obrolan besok kita mo ngapain? Tadinya rencananya ke KL cuma seharian itu aja, besok muter2 di Sunway : Nini ketemu temen2 Sunwaynya, gw sama Regina paling muter2 di Pyramid, tapi secara gw sama Regina naturally anak kota dan anak mol, kita ga tahan di Sunway hehehe. Jadi kita bertekad, apapun yang terjadi, ada yang mo ikut apa ngga, besok kita ke KL lagi heheheh.
Day 3 : Kuala Lumpur again.
Beneran ga ada yang mo ikut hahahah. Jadi cuma Tuhan, gw, dan Regina yang akan pergi ke ibukota hari ini, 2 Juni 2010.
Sebelumnya kita lunch dulu di Ayam Penyet Ria Sunway Pyramid bareng Ryan dan Melina, akhirnya makan Indo juga hehe - Ayam Penyet, nasi, Teh Botol, dan Gado2 (dibagi ber3) = 15 Ringgit. Wow, kalo di SG cuma dapet ayamnya doang hahahah.
Menurut orang2, bahaya banget kalo cewek2 naik taksi di Malaysia. Menurut Melina, contohnya yaa bisa dibawa kabur. Regina parno deh. Nini (yang ga ikut ke KL) ikutan parno. Gw juga lumayan parno tapi pengen ke mol. Keinginan ke mol melebihi keparnoan. Tapi tenang ajaa kita kan ada yang nemenin :D Ya Daddy?
Beli kupon taksi dari depan Pyramid 27 Ringgit ke Pavilion (tadinya mo ke KLCC tapi setelah dipikir2 ke Pav lebih glam), taksi meluncur cepat (yay thanks God ga macet sama sekali keknya stengah jem udah nyampe), tibalah kita di Pavilion. First stop : Vincci. Gw sudah berusaha mengumpulkan mood belanja dengan me'mantra'-i diri sendiri..."muraaah murahhh Ringgit.. kapan lagiii lagian bagus tuh yang ono.."
2 pasang. Ahahah. Trus kita muter2 mol bawa tentengan.
Sepi dan tenang dan indah. Kalo ada Hokben pasti gw lebih rajin berkunjung.
Apalagi kalo ada tiket AirAsia PP below 30 SGD.
Pagi berangkat - lunch - pulang bawa berkardus2 hahahah.
Lah mahal di taksinya.
Oh iya terus kapan makan paket 'Jom Jimat'?
Gw kangen banget milk tea sejak hari pertama, trus kita ke (wow ada juga, bagus lagi) FoodRep dibawah, beli Teh Tarik yang ehh koq begini rasanya? Duduk disono rasanya kok aneh ya - disitulah gw nyadar selama disono kita gak pernah makan di food court.
The glam-er side of the mall & seberangnya.

Pulangnya beneran macet, jam pulang kantor soalnya - hampir 1 jam baru nyampe ke Sunway, tp asik sih liat kanan kiri, rintik-rintik pula. Regina tertidur pulas, sempet beberapa kali bangun dan mendapati kita belom nyampe juga dari tadi..

Ngeliatin papan2 penunjuk jalan yang bikin nyadar 100% kalo lagi di Malaysia.
Turun di Pyramid, gw sama Regina langsung ngacir ke WC, di taxi dingin banget tadi, terus kita ketemu Nini & Yosua, naik taksi ke daerah Puchong makan Shabu2. Tempatnya lucu banget, jadi kita tinggal duduk, 1 orang 1 kompor, makanannya yang jalan (kayak Sushi gitu), beneran tempat buat makan. Meskipun kuahnya gak berasa, tp gw seneng soalnya tempatnya individual, personal, dan aman hahahah (panci gw ya panci gw, no seafood allowed then), dan setiap makanan yang lewat ada deskripsi jelasnya, jadi gausah takut panci gw kemasukan haisom meskipun tampak seperti ayam.
Ni hari sangat panjang yah - abis makan kueeenyang banget, duduk2 di semacam Daiso gitu yang menjual es serut. Abis duduk2 ngobrol, balik ke hotel, nyantai, balik lagi ke Pyramid Ryan sudah menunggu di bioskop, kita nonton Bounty Hunter deh, lumayan nyobain nonton bioskop di M'sia.
Si Ryan temennya Nini sih, gw sama Regina cuma 2 nyamuk kedinginan.
Day 4 : Balik kampong. Ke Singapura. Tapi masih lama.
Jadi kita masih sempet lunch di Pyramid, nah di hari pertama ke Sunway, gw sangat terkejut dan (agak) terharu mendapati Hartz Chicken Buffet berjejer diantara restoran2 lain - hari ini kesampean hehe.
Dan seperti biasa, gw malah lebih makanin side dishesnya daripada ayamnya sendiri. Abis makan situasi agak sedikit terburu2, soalnya masih harus (cieh, harus) beliin nyokap Nini sandal Vincci, beli snack di supermarket, sama beli replika Petronas. Trus buru2 pulang ngambil koper naik taksi (dengan sopirnya yang sangat perhatian) ke LCCT, terminal buat budget airlines, yang kabarnya sangat madesu, sungguh berbeda dengan ke KLIA.
4 tahun yang lalu gw pernah mampir di KLIA, ke KLIAnya doang tapi, itupun ke cuma ketoiletnya - sempet terdistract sama Nicholas Saputra yang tiba2 lewat, trus buru2 ngacir ke waiting room nonton bola (lagi World Cup oh indahnya), dimana bule2pun rela duduk di lantai membisu dan terpaku menatap layar kaca.
Regina tidur, Nini tidur, gw mana bisa tidur hehe. Liat kanaaaaan liat kiriiii. Nih bandara beneran jauh. Jauuuuuuuhhhhh sekali.
Dan hatiku gembira sekali begitu kita mo lewatin Sepang. Merinding. Gw pengen photo papan yang bertuliskan "Sepang F1 Circuit" tapi 2 kali gw coba photo, 2 kali juga ketutupan sama 2 truk yang hampir sama.
Nih, ini 2 truk yang berbeda loh. Yang satu GH yang satu SG.

Never mind, lagian ternyata sirkuitnya diatas sonooo yang gak mungkin ketangkep phone camera, yang penting kelihatan mata (sedikit).
Aaaaaaaiiih pengen berentiii turunnn nontonnnn.
Singkat cerita akhirnya nyampe di LCCT (yang ternyata lebih madesu dari yang gw bayangkan), si Nini langsung terbirit2 kedalem dan menghilang ditengah keramaian (flight dia 50 menit lebih dulu dari kita dan kalo ngantrinya panjang kemungkinan besar telat), gw sama Regina berlenggak-lenggok check in dan duduk2 didalam, sampai akhirnya waktu boarding tiba.
Akhirnya gw ngerasain juga namanya jalan ke pesawat.
Oh iya saya jadi ingat, majalah Air Asia sangat berkualitas menurut saya, asiiik. Regina juga ngelihat2 menu dan matanya bersinar-sinar begitu melihat "Nasi Kuning Manado,". Sungguh sangat bersemangat sekali dia meng-order. Pramugarinya mengisyaratkan sesuatu yang kita tangkep sebagai "tunggu gilirannya,"
Reginapun mengiyakan, terus lanjut ngobrol, trus gw iseng ngelihat ke bawah, oh, daratan, sampai dimana yah kita?
Konon, perjalanannya cuma 1 jam. Tapi rasanya kayak 30 menit. Baru gw ngomong 'kita belom mo nyampe kan?', ada announcement 'we'll be landing shortly'.
Pupuslah harapan Regina menyantap Nasi Kuning Manado, dia tampak terpukul.
Akhirnya tibalah kami di Singapura yang indah, bersih, aman, tertib, dan teratur. Yaaay. Si Nini sedang menunggu kita di 'Ya Kun Kaya Toast Terminal 1', padahal di T1 gak ada Ya Kun. Ahahah lumayan panjang deh ceritanya dan akhirnya kami menemukan Nini (sepertinya sudah lelah dan pegal) menunggu di depan Ya Kun Terminal 2.
Well, thank You Lord :D. This trip was fun, I'd like to go back again (to KL) someday. Apalagi ke Pavilion. Terus makan di restoran "itu".