Jakarta itu seperti kaca, tempat untuk lari dari rutinitas yang memadamkan semangat, ke tempat "sunyi" untuk refleksi diri. Tapi gak boleh kelamaan, kena asap knalpot, burem juga.
* * *
"Life moves pretty fast, if you don't stop and look around for a while, you could miss it." Rutinitas di Singapura udah mulai bikin momentum hilang entah kemana, jadi waktu kerjaan sudah tidak mencekik lagi, gue klik tombol pause. Pulang, senang.
* * *
Gue baca Journey 2 di pesawat, buku superkeren yang gue bawa dari Jakarta dan dengan sedikit gondok baru sempet dibaca lagi dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Ada tulisan mbak Trinzi Mulamawitri, editor-in-chief Kawanku dengan kata-katanya yang bikin senyum-senyum sendiri dan pengen ngajak hi-five. Baginya, satu-satunya cara untuk menikmati Jakarta adalah dengan meninggalkan kota itu sejenak. Bener banget, secara gue cuma turis yang beberapa waktu singgah untuk bernapas (kayak paus aje), yang jiwa petualangannya belom dimatikan di jalan raya, gue mampu banget menuruti semboyan turisme kota ini, enjoy Jakarta. Orang biasanya naik gunung buat bertapa, gue malah terbang ke hingar-bingar ibukota yang berdebu namun tetap lovely ini untuk menjernihkan pikiran. Betapa beruntungnya saya, yang gue rasakan dari kota ini emang yang bagus-bagusnya saja.
* * *
Tapi kali ini gue pulang ke hangatnya pelukan Jakarta dengan 1 misi, untuk mikirin baik-baik apa jadinya kalo memang harus benar-benar kembali. Karena situasi sekarang lagi membingungkan, belom keliatan dimana gue mesti ditempatkan demi mencapai tujuan kenapa gue dilahirkan ke dunia. Mungkin Tuhan udah bilang dari kapan-kapan dan gue yang gak peka, atau memang harus melatih iman, yang meski ditengah kabut harus tetap percaya. Dilema 2 negara kembali menerpa, meski gak segalau dulu.
* * *
Waking up and finding myself in Jakarta, it always feels great. Tapi kalo tiap hari gue bisa bangun pagi di kamar sendiri tapi setelahnya harus pergi berjuang di jalan raya, apa sisi menyenangkan ibukota masih akan berfungsi dengan baik? Dalam 4 hari aja udah kena migraine 2 kali karena terjebak macet, gimana kalo daily basis. Meski hidup di Singapura itu rasanya cepat sekali, tapi kalo harus kembali dan meneruskan hidup disini, rasanya masih mending disono. Aku jadi takut, jadi harus pulang gak nih Tuhan?
* * *
"Kan ada Jokowi," kata teman. Well, dia kan gubernur, bukan screwdriver * designer joke*. Jadi gubernur Jakarta itu pekerjaan ke-5 paling sulit di dunia, secara yang dihandle adalah masalah akut seluas 700 kilometer persegi. Tapi melihat persona dan visi misinya, rasanya susah untuk tidak percaya. Salut untuk kedua sosok luar biasa yang mampu memenangkan hati rakyat Jakarta yang udah keburu membatu setelah diperlakukan begitu kejamnya oleh kota sendiri, bahkan mempersatukan mereka dengan berbagai perbedaan yang ada, membuat generasi muda yang biasanya cuek menoleh ke politik, bahkan ikut serta secara kreatif. Batavians unite!
* * *
Jakarta itu benang kusut yang sudah hampir terikat mati, so ya Tuhan, tolonglah mereka, tolonglah kami, menjadikan Jakarta menjadi kota yang manusiawi. So the thoughts of going back to this city for good won't be that terrifying.
Karena tanpa-Mu, itu tidak mungkin.
No comments:
Post a Comment